Review Film Clayface, Body Horror DC yang Berani Kotor dengan Skor Sotoy 7,5/10
By Tony Tofani
Review film Clayface dengan Skor Sotoy 7,5/10. Bahas akting Tom Rhys Harries, sisi gore, naskah yang tidak merata, Gotham generik, dan jadwal tayangnya.
Quick Takeaways
Skor Sotoy untuk Clayface adalah 7,5/10.
Tom Rhys Harries jadi alasan terkuat untuk menonton, dengan Naomi Ackie sebagai penyeimbang yang hangat dan kering.
Sisi gore dan prostetiknya berani untuk film DC, tetapi naskah, efek visual, dan Gotham yang generik menahan skornya.
Cocok untuk penggemar horor dan film B. Kurang cocok buat yang mencari petualangan superhero ala Superman.
Review film Clayface ini kami mulai dari satu hal: ini film DC yang paling tidak peduli menyenangkan semua orang. Hasilnya tidak mulus, tetapi punya wajah sendiri, dan itu jarang terjadi di film superhero belakangan. Skor Sotoy kami 7,5/10. Tulisan ini membahas premis dan penilaian umum tanpa spoiler.
Tentang apa film Clayface?
Clayface mengikuti Matt Hagen, aktor muda yang wajahnya rusak akibat ulah seorang gangster. Sebagai jalan terakhir, ia mendatangi ilmuwan Dr. Caitlin Corr, yang mengubah tubuhnya menjadi tanah liat. Tom Rhys Harries memerankan Matt, Naomi Ackie memerankan Caitlin, dan Max Minghella berperan sebagai detektif polisi Gotham. Naskahnya ditulis Mike Flanagan dan Hossein Amini. Flanagan awalnya juga akan menyutradarai, tetapi mundur karena jadwal, dan James Watkins mengambil alih kursi sutradara.
Info
Keterangan
Sutradara
James Watkins
Pemeran utama
Tom Rhys Harries, Naomi Ackie, Max Minghella, David Dencik
Distributor
Warner Bros. Pictures
Tanggal tayang di AS
23 Oktober 2026
Anggaran
Sekitar $40 juta
Skor Sotoy
7,5/10
Detail filmnya juga tersedia di halaman Clayface di Film Database kami.
Kenapa Clayface dapat Skor Sotoy 7,5/10?
Angka itu datang dari dua sisi yang saling menarik. Kekuatan filmnya ada di akting, keberanian visual, dan identitasnya sebagai film body horror berskala kecil. Yang menahannya adalah naskah yang tidak merata, sebagian efek yang biasa saja, dan Gotham yang nyaris tanpa karakter. Hasil akhirnya film yang layak ditonton dengan ekspektasi yang pas, bukan karya yang mulus.
Skor kami berada di jalur yang sama dengan sambutan kritikus. Clayface debut di Rotten Tomatoes dengan 73% dari 74 ulasan, lalu naik ke 75% dari 83 ulasan, batas untuk label Certified Fresh. Sebagai pembanding, laporan yang sama mencatat Superman di 83%, Lanterns di 91%, dan Supergirl di 52%. Soal film yang membelah kritikus, kami pernah membahasnya di review Digger.
Bagaimana akting Tom Rhys Harries dan Naomi Ackie?
Harries memegang film ini. Ia menampilkan rasa pilu di balik tata rias tebal dan efek visual, dan perubahan Matt dari aktor yang percaya diri menjadi sosok yang hancur terasa meyakinkan. Ia membawa kesan karismatik di awal film, lalu terlihat makin goyah seiring cerita berjalan. Itu penampilan yang menuntut secara fisik, dan ia menjaganya tetap manusiawi.
Naomi Ackie jadi penyeimbang. Humor keringnya memberi ruang bernapas di film yang suram, dan Dr. Corr terasa seperti pusat emosi cerita. Rob Brydon juga mencuri perhatian lewat beberapa adegan singkat. Tokoh pendukung lain lebih tipis, dan David Dencik sebagai penjahat terasa berlebihan.
Seberapa gore dan menakutkan Clayface?
Filmnya lebih mengganggu daripada menakutkan. Gore-nya berdarah dan kotor, dengan prostetik yang menjadi nilai jual utama. Adegan klub malam, yang memamerkan kemampuan berubah wujud Matt, jadi salah satu puncaknya. Adegan pesawat juga menjadi bagian yang menegangkan.
Tidak semua efek bekerja sama baik. Sebagian bagian body horror memakai efek visual yang biasa saja, dan wujud akhir Clayface yang ditunggu-tunggu tidak sebesar harapan. Referensinya terasa jelas: warisan The Fly dan The Substance dalam urusan tubuh yang rusak, serta nuansa Darkman dalam balas dendamnya. Kalau kamu sensitif terhadap darah, filmnya memang tidak cocok untuk penonton yang mudah mual.
Apa kelemahan naskah dan Gotham di Clayface?
Naskah adalah titik terlemah. Perjalanan Matt menuju amarah dan balas dendam tergambar rapi, tetapi dialognya kaku di beberapa bagian dan alurnya mengikuti pola yang sudah akrab. Akhir filmnya juga terasa kurang terbangun dibanding bagian sebelumnya, dan penggambaran perempuan di film ini patut dikritik.
Gotham sendiri hampir tidak berfungsi sebagai karakter. Kota itu terlihat seperti kota Amerika generik dan terasa seperti set studio, padahal Gotham biasanya ikut membentuk suasana cerita. Batman tidak muncul, dan sambungan ke semesta DC nyaris tidak ada. Bagi sebagian penonton itu kelebihan, karena filmnya bisa ditonton tanpa mengejar judul lain. Bagi yang lain, itu membuatnya terasa mudah dilupakan.
Siapa yang cocok menonton Clayface?
Penggemar horor dan film B adalah target utamanya. Filmnya tidak berusaha menyenangkan semua orang, jadi kalau kamu mencari kemegahan superhero ala Superman, ekspektasinya perlu disesuaikan. Kalau ingin membandingkan dengan judul DC lain, lihat halaman Lanterns di Film Database.
Kapan Clayface tayang di Indonesia?
Satu laporan media Indonesia menyebut Clayface mulai tayang di bioskop Indonesia pada 21 Oktober, dua hari sebelum rilis di Amerika Serikat. Cek jadwal terbaru di bioskop terdekat sebelum berangkat, dan periksa klasifikasi usianya karena filmnya berdarah.
Kesimpulan
Clayface adalah film body horror DC yang berani kotor, ditopang akting Tom Rhys Harries dan Naomi Ackie, tetapi dijegal naskah yang tidak merata dan Gotham yang hambar. Skor Sotoy 7,5/10 menempatkannya sebagai tontonan yang layak untuk penggemar horor.
Mau cari tontonan lain? Lihat rekomendasi film Sotoy Film. Menurutmu, apakah body horror cocok untuk DC? Bagikan pendapatmu di komunitas Sotoy Film.
