Pemenang Jakarta Film Week 2026: Nobody Loves Kay dan Filipiñana Raih Penghargaan Utama

By Anto Susanto

Daftar pemenang Jakarta Film Week 2026: Nobody Loves Kay, Filipiñana, The Year Without Summer, Bleat!, dan What We Leave Behind. Ini profil tiap filmnya.

Quick Takeaways

Jakarta Film Week 2026 berlangsung 21 sampai 25 Oktober 2026, dan para pemenang diumumkan pada malam penutupan, 25 Oktober.

Nobody Loves Kay karya Bernardus Raka meraih Direction Award untuk film fitur Indonesia, sedangkan Filipiñana karya Rafael Manuel meraih Global Feature Award.

The Year Without Summer dari Rayhan Dharmawan memenangkan Jakarta Film Fund Award, satu dari dua kemenangan Indonesia tahun ini.

Bleat! menang di Global Short Award, dan What We Leave Behind menang di Global Animation Award.

Edisi keenam ini mengusung tema ENCOUNTERS dan memutar 157 film dari 59 negara.

Festival film tahunan di ibu kota baru saja menutup edisi keenamnya, dan daftar pemenang Jakarta Film Week 2026 sudah keluar. Lima film membawa pulang penghargaan, dua di antaranya dari Indonesia. Sisanya datang dari Filipina, Malaysia, dan Kanada.

Di bawah ini kami rangkum siapa saja pemenangnya dan tentang apa filmnya. Kalau kamu mengikuti kabar film Indonesia lainnya, kategori Movies di Sotoy Film rutin memuat berita terbarunya.

Sekilas tentang Jakarta Film Week 2026

Jakarta Film Week diselenggarakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta lewat Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Edisi 2026 mengusung tema ENCOUNTERS atau perjumpaan. Festival menerima lebih dari 1.200 pendaftaran film dari 82 negara, dan 157 film dari 59 negara akhirnya diputar selama festival.

Film penutupnya adalah Laut Bercerita, yang tayang bersamaan dengan malam penganugerahan. Film itu dijadwalkan masuk bioskop Indonesia pada 29 Oktober 2026.

Daftar Lengkap Pemenang Jakarta Film Week 2026

Penghargaan

Film

Sutradara

Direction Award (film fitur Indonesia)

Nobody Loves Kay

Bernardus Raka

Global Feature Award (film fitur internasional)

Filipiñana

Rafael Manuel

Global Short Award (film pendek)

Bleat!

Ananth Subramaniam

Global Animation Award (animasi pendek)

What We Leave Behind

Jean-Sébastien Hamel dan Alexandra Myotte

Jakarta Film Fund Award

The Year Without Summer

Rayhan Dharmawan

Direction Award: Nobody Loves Kay (2026)

Nobody Loves Kay adalah drama garapan Bernardus Raka tentang Kay, remaja yang bercita-cita menjadi pemain profesional Mobile Legends. Demi mimpinya di dunia e-sports, Kay harus menghadapi tekanan kompetisi dan ekspektasi orang-orang di sekitarnya. Karakternya terinspirasi dari perjalanan Kairi, pemain esports profesional asal Filipina.

Bima Azriel, Aurora Ribero, Rey Bong, Joshia Frederico, Ariyo Wahab, Mian Tiara, Dewa Dayana, dan Elly D. Luthan mengisi jajaran pemain. Naskahnya ditulis Bernardus Raka bersama Johanna Wattimena, dan film ini juga masuk daftar nominasi Bandung Film Festival 2026 di kategori penulis skenario.

Direction Award sendiri diberikan untuk film fitur Indonesia terbaik yang diputar di festival.

Global Feature Award: Filipiñana (2026)

Penghargaan film fitur internasional jatuh kepada Filipiñana, debut fitur Rafael Manuel. Filmnya merupakan pengembangan dari film pendeknya yang meraih Silver Bear di Berlinale 2020. Manuel menulis naskah awalnya pada 2018 saat masih kuliah di sekolah film.

Ceritanya berpusat pada Isabel, remaja 17 tahun yang bekerja sebagai tee-girl di klub golf eksklusif. Ia merasa aneh tertarik kepada Dr. Palanca, pemilik klub, lalu perlahan menyadari ada kekerasan di balik wajah bersih klub itu dan sejarah kelam yang mengikat mereka berdua. Jorrybell Agoto memerankan Isabel, dengan Teroy Guzman sebagai Palanca.

Sebelum mampir ke Jakarta, Filipiñana meraih Special Jury Award for Creative Vision di Sundance 2026 dan juga dinominasikan untuk Grand Jury Prize. Manuel menyebut lapangan golf sebagai mikrokosmos yang pas untuk menggambarkan negaranya. Kamu bisa membaca profil filmnya di halaman Filipiñana di Film Database kami.

Global Short Award: Bleat! (2025)

Bleat! adalah film pendek berdurasi sekitar 15 menit karya Ananth Subramaniam dari Malaysia, produksi bersama Malaysia, Filipina, dan Prancis. Pasangan lansia Malaysia keturunan Tamil menemukan bahwa kambing jantan yang mereka gemukkan untuk kurban ternyata sedang hamil. Mereka dihadapkan pada pilihan antara menyembelihnya atau menghadapi murka para dewa.

Film ini tayang perdana di Critics' Week Cannes 2025 dan menjadi film pendek Malaysia pertama yang masuk ke festival itu. Di sana Bleat! memenangkan Queer Palm untuk film pendek terbaik. Sebuah ulasan dari BIFAN 2026 menyebut filmnya dibuat hitam putih dan bisa dibaca sebagai kritik sosial tentang apa yang terjadi saat peristiwa luar biasa mengguncang sistem kepercayaan. Pembacaan lain melihatnya sebagai refleksi kesulitan komunitas LGBTQ+ di masyarakat dengan tekanan agama dan budaya yang kuat.

Kalau kamu penasaran dengan film lain dari kawasan ini di musim penghargaan, kami pernah membahas tujuh film Asia Tenggara yang bersaing di Oscar 2027.

Global Animation Award: What We Leave Behind (2025)

What We Leave Behind (judul aslinya Ce qu'on laisse derrière) adalah film pendek animasi Kanada berdurasi sekitar 10 menit. Filmnya dibuat duet Jean-Sébastien Hamel dan Alexandra Myotte dari studio Sémaphore Films di Montreal. Myotte menangani animasi, dan Hamel juga menyunting filmnya.

Tokoh utamanya, Dan, punya luka menganga di lehernya yang tidak mau sembuh. Ia tidak ingat penyebabnya, dan tidak sanggup membicarakannya. Untuk memahaminya, ia harus kembali ke arena masa kecilnya yang suram dan mencari bagian dirinya yang tertinggal di sana. Sinopsis festival lain menggambarkan masa kecil itu bertumpu pada latihan hoki es dan sebuah rahasia gelap, dengan tema trauma dan pemulihan batin.

Film ini tayang perdana di Locarno 2025 dan menang di Kaboom Animation Festival 2026. Duo ini juga dikenal lewat A Crab in the Pool, yang pernah masuk daftar pendek Academy Awards.

The Year Without Summer: Jakarta Film Fund Award

Penghargaan ini diberikan kepada film terbaik yang diproduksi lewat program Jakarta Film Fund, program pendanaan dan pendampingan film pendek bagi sineas muda Jakarta. Tahun ini programnya menghasilkan delapan film pendek berlatar Jakarta, tiga di antaranya berasal dari Jakarta Film Fund for Student hasil kolaborasi dengan J-Youth Film Festival 2026.

Pemenangnya adalah The Year Without Summer (judul lokalnya Sejuk Ini Karena Aku), film pendek 18 menit karya Rayhan Dharmawan. Latarnya Tambora, kawasan padat penduduk di Jakarta yang menghadapi cuaca panas ekstrem dan ancaman kebakaran. Seorang tokoh bernama Uus bertekad pindah ke Jepang demi hidup lebih baik, dan mengajak kakaknya, Surya, ikut bersamanya.

Kami belum menemukan keterangan soal jadwal tayang di luar festival. Untuk konteks penghargaan film dalam negeri lainnya, lihat juga daftar nominasi Piala Citra FFI 2026.

Kapan Pemenang Jakarta Film Week 2026 Bisa Ditonton?

Jadwal tayang umumnya juga belum ada. Filipiñana dijadwalkan tayang di Film Forum New York, tetapi ketersediaannya di Indonesia belum kami temukan. Pantau pengumuman distributor dan akun resmi Jakarta Film Week.

Kesimpulan

Dua dari lima pemenang Jakarta Film Week 2026 berasal dari Indonesia: drama esports Nobody Loves Kay dan film pendek The Year Without Summer tentang Tambora yang kepanasan. Tiga lainnya datang dari Filipina, Malaysia, dan Kanada, dengan cerita tentang klub golf, seekor kambing hamil, dan luka masa kecil.

Cari film-film lain yang sedang kami catat di Film Database Sotoy Film, lalu ceritakan pilihanmu di Komunitas Sotoy Film. Dari lima pemenang ini, mana yang paling ingin kamu tonton lebih dulu?