Kritik Arie Kriting soal Nominasi FFI 2026: Karakter Indonesia Timur Tak Harus Menderita Dulu

By Tony Tofani

Arie Kriting mengkritik cara film Indonesia memotret karakter Indonesia Timur lewat nominasi FFI 2026, lengkap dengan sorotan akting Irma Rihi di Na Willa.

Setiap musim nominasi, pertanyaan yang hampir pasti muncul di lini masa adalah siapa yang tidak masuk daftar. Kali ini komika sekaligus aktor Arie Kriting menulis masukan terbuka untuk penyelenggara FFI lewat media sosial pribadinya, dan isinya melebar jauh dari urusan siapa yang dinominasikan. Kritik Arie Kriting soal nominasi FFI 2026 ini layak dibaca pelan-pelan karena menyentuh cara perfilman kita memandang karakter dari Indonesia Timur, dan siapa yang akhirnya dianggap pantas diapresiasi.

Unggahannya muncul dua hari setelah daftar Piala Citra diumumkan, jadi topiknya langsung terasa di kalangan pekerja film.

Apa Isi Kritik Arie Kriting soal Nominasi FFI 2026?

Arie menyebut karakter Indonesia Timur sering dilihat lewat kacamata orang kota yang sempit. Akibatnya, representasi yang dianggap layak cenderung terkunci pada satu pola: tokoh yang harus menderita dulu supaya terasa bermakna.

Pertanyaan yang Ia Ajukan

Ia menggugat pola itu lewat pertanyaan retoris. Apakah sebuah karakter harus miskin, tersiksa, atau jadi korban kekerasan dulu baru dianggap? Menurut Arie, begitulah gambaran yang ada di kepala banyak orang kota setiap kali membicarakan Orang Timur. Sasaran kritiknya cara berpikir, tanpa menunjuk satu film atau satu orang.

Arie Menyebutnya Saran, Bukan Gugatan

Arie menegaskan bahwa penentuan nominasi sepenuhnya hak dewan juri. Ia menyebut unggahannya pendapat pribadi yang bertujuan memberi masukan konstruktif, dengan keyakinan bahwa insan perfilman cukup terbuka untuk mendengar. Ia juga mengusulkan agar hal semacam ini didiskusikan bersama.

Kenapa Peran Mak di Na Willa Jadi Sorotan?

Dalam unggahannya, Arie memberi perhatian khusus pada akting Irma Rihi. Aktris ini memerankan Mak, ibu Willa, di Na Willa. Arie memuji karakter tersebut karena tampil sebagai ibu pada umumnya tanpa menghilangkan identitas khas ketimuran, dan berharap Irma bisa dipertimbangkan sebagai nomine tahun ini.

Ibu Biasa yang Jarang Diberi Ruang

Karakter Timur di layar lebar sering membawa beban dramatis yang besar. Seorang ibu yang tegas sekaligus penuh kasih jarang dipercaya untuk jadi sorotan, padahal peran sehari-hari seperti itu menuntut akting yang tertahan dan konsisten.

Dalam dunia ceritanya, Mak digambarkan berasal dari NTT dan menikah dengan Pak yang berdarah Tionghoa, di tengah Surabaya era 1960-an. Latar yang beragam itu hadir sebagai keseharian keluarga Willa. Dalam proses produksi, sang sutradara sempat menyebut perlunya menyamakan visi seluruh pemain.

Na Willa di Daftar Nominasi

Na Willa sendiri ada di pengumuman. Film ini membawa 10 nominasi, termasuk Film Cerita Panjang Terbaik, Penulis Skenario Adaptasi Terbaik untuk Ryan Adriandhy, dan Pemeran Utama Perempuan Terbaik untuk Luisa Adreena. Pemeran pendukung yang disorot Arie tidak ikut masuk, dan itu yang membuat masukannya spesifik.

Kalau kamu ingin melihat gambaran lengkap siapa saja yang masuk, kami merangkumnya di daftar nominasi Piala Citra FFI 2026.

Standar Ganda Soal Logat Timur yang Disinggung Arie

Arie juga menyinggung soal dialek. Aktor dari kota besar, katanya, sering menuai pujian melimpah ketika menirukan logat Timur, padahal eksekusinya kerap campur aduk. Contohnya latar lokasi di Sumba tetapi dialek yang dipakai justru Ambon atau Papua.

Logat sebagai Penanda Keaslian

Siapa pun yang pernah menonton film berlatar Timur mungkin pernah menangkap kejanggalan seperti itu. Logat dijadikan penanda keaslian yang cukup ditempel di permukaan, sementara penonton dari daerah tersebut langsung merasa ada yang meleset.

Siapa yang Dapat Pujian

Pertanyaannya jadi menyangkut cara menimbang keotentikan. Pujian untuk logat yang meleset, sementara aktor yang tumbuh dalam budaya itu minim ruang, memperlihatkan ketimpangan yang patut dikoreksi. Pendampingan dialek sejak praproduksi dan casting yang terbuka untuk aktor dari daerah bersangkutan akan membantu, dan juri bisa ikut memperhatikan aspek ini saat menilai.

Apa Tanggapan Sineas atas Kritik Arie Kriting soal Nominasi FFI 2026?

Banyak sineas dan pekerja film ikut menanggapi, sebagian besar dengan dukungan.

Nama yang Disebut Absen dari Daftar

Sutradara Kamila Andini lewat kolom komentar mencatat absennya nama Irma Rihi, Gina S Noer, dan Elisabeth Sisauta dari daftar tahun ini. Ernest Prakasa menyebut Irma sungguh layak jadi nomine. Ryan Adriandhy, sutradara Na Willa yang juga tidak masuk nominasi sutradara terbaik, berterima kasih atas pandangan Arie. Bene Dion dan Ibnu Jamil ikut memberi tanggapan serupa.

Pesan Penutup Lewat Ratatouille

Arie menutup catatannya dengan semangat dari film Ratatouille: seniman hebat bisa datang dari mana saja. Ia memakainya untuk menyampaikan harapan agar FFI mencerminkan wajah Indonesia yang majemuk, dari Sabang sampai Merauke.

Untuk bacaan lanjutan soal siapa saja yang masuk dan tersisih, kamu bisa buka pembahasan kami tentang nominasi Irma Rihi dan Prilly Latuconsina.

Penjurian FFI 2026 dan Ruang untuk Diskusi

Pada edisi ini, 85 anggota Akademi Citra terlibat dalam penentuan nominasi, dengan 531 karya yang masuk. Komite juga menyebut telah menyempurnakan sistem penjurian berdasarkan masukan banyak pihak.

Peta Nominasi Sejauh Ini

Ghost in the Cell memimpin dengan 12 nominasi, disusul Na Willa dengan 10 dan Para Perasuk dengan sembilan. Malam puncak penganugerahan dijadwalkan pada November 2026, jadi masih ada waktu bagi diskusi ini untuk bergulir.

Kenapa Diskusi Ini Tetap Relevan

Daftar nominasi adalah hasil kerja juri, dan tiap film punya konteks penilaiannya sendiri. Namun banyak sineas bersuara ke arah yang sama, dan Na Willa diproyeksikan sebagai IP baru Visinema Studios setelah Jumbo, dengan dunia cerita yang direncanakan berlanjut. Cara kita menilai karakter seperti Mak hari ini ikut memengaruhi bagaimana film-film berikutnya menulis tokoh daerah.

Usulan untuk Penyelenggara

Forum diskusi antara juri, sineas daerah, dan kritikus bisa jadi tempat menguji ulang kriteria penilaian karakter. Perspektif yang jarang terdengar punya jalur resmi untuk masuk tanpa menunggu viral di media sosial, dan independensi juri tetap terjaga.

Kesimpulan

Representasi daerah sulit diukur hanya dari seberapa berat nasib karakternya, dan keotentikan logat serta identitas layak ditimbang lebih serius. Masukan Arie disampaikan dengan niat membangun, dan itu yang membuatnya berguna bagi ekosistem film.

Kalau kamu ingin menelusuri film-film yang sedang jadi bahan perbincangan, jelajahi Film Database kami. Menurutmu, karakter daerah mana di layar lebar yang pantas lebih banyak disorot? Tulis pendapatmu di komunitas Sotoy Film.